Sekilas Info

Ingin Artikel / Karya / iklan Antum wa Antunna dimuat diblog ini ? Silahkan kirim ke email : lembagadakwahannur@gmail.com "Karena An-Nuur Lebih Dari Sahabat"
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Hukum Membaca Basmalah Saat Membaca Surat Al-Taubah Dari Tengahnya

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Sebagaimana yang sudah maklum, surat Al-Taubah tidak diawali dengan Basmalah dalam mushaf. Sehingga hal ini berimbas kepada hukum membacanya, yakni tidak dianjurkan memulainya dengan Basmalah saat membacanya dari awal surat. Lalu bagaimana kalau membacanya dari pertengahan surat, apakah disyariatkan membaca Basmalah?
Di antara adab membaca Al-Qur'an adalah seorang qari' (orang yang membaca Al-Qur'an) mengawali dengan membaca Basmalah apabila ia membacanya dari awal surat, kecuali surat Bara-ah (Al-Taubah).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Dan sepantasnya menjaga bacaan Bismillahirrahmanirrahim pada permulaan setiap surat, selain surat Bara'ah. Mayoritas ulama berkata bahwa ia (Basmalah) adalah ayat sebagaimana tertulis di mushaf. Dan telah tertulis di permulaan-permulaan surat selain surat Bara'ah. Apabila membacanya ia harus meyakini telah membaca secara lengkap atau satu surat. Apabila meninggalkan Basmalah maka ia telah meninggalkan sebagian Al-Qur'an menurut mayoritas ulama." (Dinukil dari al-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur'an: 100)
Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah dalam berkata, "Bagi seorang mukmin dan mukminan disunnahkan memulai membaca Al-Qur'an dengan membaca Basmalah pada permulaan setiap surat. Jika ia mengulang-ulang surat itu maka ia juga mengulang Basmalah. Yakni Bismillahirrahmanirrahim pada setiap permulaan surat. Adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam apabila membaca satu surat beliau memulainya dengan Bismillahirrahmanirrahim. Sungguh Allah telah menurunkannya bersama setiap surat. Setiap surat turun bersamaan dengannya, Bismillahirrahmanirrahim kecuali surat Bara-ah. karena Utsman dan para sahabat bertawakkuf saat mengumpulkan Al-Qur'an, apakah ia satu surat bersama Al-Anfal ataukah terpisah? Oleh karena ini mereka tidak menuliskan ayat Tasmiyyah (Bismillahirrahmanirrahim) di antara keduanya. Adapun surat selainnya, maka disyariatkan bagi qari' untuk membaca Tasmiyah. Apabila ia mengulang-ulang beberapa surat maka ia mengulangi Tasmiyah juga." (Terdapat dalam Nuur 'Ala al-Darbi, www.binbaz.org.sa)
Adapun jika membacanya dari pertengahan surat: maka tidak dianjurkan mengawali dengan Basmalah. Cukuplah ia membaca Isti'adzah atau Ta'awudz, yakni ia membaca: A'udzubillahi Minasy Syaithanir Rajim. Jika ia tetap membaca Basmalah maka tidak mengapa. Tapi membaca ta'awud sudah cukup baginya. Hal ini berdasarkan firman Allah 'Azza wa Jalla ,
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

"Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk." (QS. Al-Nahl: 98)
Maka apabila ia memulai membaca dari pertengahan surat cukuplah ia berta'awudz. Jika dari awal surat, maka ia berta'awudz dan bertasmiyah secara bersamaan. Jika ia mengulangi maka cukup ia mengulangi Tasmiyah saja, tidak mengulangi Ta'awudz." Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Oleh: Badrul Tamam
Sumber : /www.voa-islam.com/

Kenapa Surat Al-Taubah Tidak Diawali Dengan Basmalah?


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Sebagaimana yang sudah sama-sama kita ketahui, bahwa surah Al-Taubah atau al-Bara-ah, penulisannya dalam mushaf tidak diawali dengan Basmalah. Sebabnya adalah para sahabat Radhiyallahu 'Anhum tidak menuliskannya di awalnya dalam mushaf. Mereka mengikuti Amirul Mukminin Utsman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu. Al-Tirmidzi mengeluarkan satu riwayat dalam sunannya dengan sanad yang sampai kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, yang mempertanyakan kepada Utsman bin Affan tentang latar belakang keputusannyamenggandengkan Al-Anfal (padahal ia termasuk jenis al-Matsani, -ayatnya kurang dari seratus-) dan mempelakukan Bara'ah (padahal ia bagian dari Mi-uun, -jumlah ayatnya seratus lebih-) tanpa memberikan pembatas "Bismillahirrahmanirrahim" pada keduanya, dan meletakkannya pada Sab'un Thiwal (tujuh surat yang paling panjang). "Apa yang sebab kalian melakukan itu?" tanyanya.
Lalu Utsman menjawab, "Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada suatu masa turun kepada beliau beberapa surat yang ayatnya banyak, maka apabila turun sesuatu kepada beliau maka beliau memanggil sebagian orang yang bertugas menuliskan wahyu, lalu beliau bersabda: "Letakkan ayat-ayat itu dalam surat yang disebutkan di dalamnya begini dan begitu." Apabila turun satu ayat kepada beliau maka bersabda, "Letakkan ayat ini di dalam surat yang di dalamnya disebutkan begini dan begitu." Dan adalah Al-Anfal termasuk bagian surat yang pertama-tama diturunkan di Madinah. Sedangkan Bara'ah termasuk Al-Qur'an yang terakhir turun (di sana). Isinya (Bara'ah) mirip dengan isi Al-Anfal, maka aku mengira bahwa Bara'ah bagian dari Anfal. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam wafat dan belum sempat menjelaskan hal itu kepada kami. Oleh karena itu aku menggandengkan antara keduanya dan tidak menuliskan di antara keduanya Bismillahirrahmanirrahim. Lalu aku meletakkannya dalam bagian Sab' Thiwal." (Dinukil dari Fatawa Lajnah Daimah: 4/225)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: " . . . Dan pendapat yang shahih, tidak ada Basmalah di antara ia (Al-Taubah) dan Al-Anfal. Karena Basmalah adalah satu ayat dalam kitabullah 'Azza wa Jalla. Maka apabila Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak mengatakan: "Letakkan basmalah antara dua surat," Maka mereka tidak akan meletakkan Basmalah di antara keduanya. Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam itu yang menetapkan dan bersabda, "Letakkan Basmalah," dan beliau tidak menetapkan Basmalah di antara al-Anfal dan Bara-ah, sehingga mereka tidak menuliskannya. Tetapi ini masih menyisakan pertanyaan, "Jika beliau tidak menetapkan, lalu kenapa ia dipisah dari surat Al-Anfal? Kenapa tidak dijadikan satu surat saja?." Kami jawab, "Ya. Mereka tidak menjadikan keduanya sebagai satu surat. Karena mereka ragu, apakah Bara'ah itu satu surat dengan Al-Anfal atau dua surat yang saling menjelaskan?" Kemudian mereka berkata: "Kami jadikan pemisah antara dua surat, dan tidak kami adakan Basmalah. Inilah pendapat yang shahih tentang tidak adanya penyebutan Basmalah di antara surat Bara'ah dan Al-Anfal." (Dinutip dari Liqa' al-Bab al-Maftuh, no. 18)
Sehingga dari sini hadir hukum membaca Basmalah di awal surat Al-Taubah. Pendapat paling kuat yang hampir tidak ada perbedaan di antara ulama adalah dimakruhkan. Sehingga tidak dianjurkan memulai membaca surat Al-Taubah dengan membaca Basmalah, yakni Bismillahirrahmanirrahim.
Shalih dalam Masail-nya menuturkan dari bapaknya, Ahmad rahimahullah: "Aku bertanya kepadanya tentang surat Al-Anfal dan surat al-Taubah, apakah boleh bagi seseorang memisahkan keduanya dengan Bismillahirrahmanirrahim. Bapakku menjawab, "Urusan Al-Qur'an itu dikembalikan kepada ijma' para sahabat Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, tidak boleh ditambahi dan tidak boleh dikurangi." Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Oleh: Badrul Tamam
Sumber : /www.voa-islam.com/